Saturday, June 8, 2013

Walking Tour In Fitzroy Garden, Melbourne

Cara hemat untuk berwisata salah satunya adalah jalan-jalan dengan berjalan kaki tentunya.....hehehe. Ini saya lakukan sewaktu trip ke Australia akhir September tahun 2012. Tau sendiri kan, tiket pesawat pulang perginya saja sudah cukup mahal, belum lagi untuk penginapan dan makan selama 10 hari. Maka untuk menyiasati agar tetap bisa menikmati tempat-tempat wisatanya saya memilih berjalan kaki untuk beberapa tempat. 

Pagi hari itu cuacanya cerah dan udaranya sejuk banget seperti di Puncak. Rasanya tepat sekali kalau saya memilih berjalan kaki ke taman ini, kebetulan taman ini dekat dengan tempat penginapan saya. Cuaca di Australian, khususnya Melbourne sedang memasuki masa transisi dari musim dingin ke musim panas. Suhu udara masih sering terasa dingin terutama di sore hari menjelang malam.

Fitzroy Garden sekilas tampak biasa saja dan tidak terlalu besar-besar amat. Tetapi ketika saya masuk dan berjalan di dalamnya ternyata cukup luas. Taman ini ada sejarahnya juga rupanya. Dibangun sekitar tahun 1850an dan diberi nama setelah Sir Charles Augustus Fitzroy menjabat sebagai Gubernur New South Wales dan Gubernur Jenderal Koloni Australia.  Saat ini, tercatat sudah lebih dari 2 juta orang datang mengunjungi taman ini. Wow...fantastis ya! Nah.. di dalam taman ini ada bangunan namanya Cottage Cook (Captain James Cook). Cottage asli ini berasal dari Great Ayton, Yorkshire yang dikirim ke Australia dan ditempatkan di taman Fitzroy tahun 1934 sebagai hadiah peradaban Victoria.

Rumahnya imut, model rumah pedesaan di Inggris pertengahan abad 17....semua perabotan rumah, alat dapur, tempat tidur, dan baju-baju yang dipakai oleh James Cook dan istrinya masih tampak bagus dan awet dengan penataan yang rapi (lihat foto).

Oh ya, sebelum masuk ke Cook's Cottage, ada sebuah Conservatorium yang dibangun tahun 1930 dimana di dalamnya terdapat bunga-bunga yang sedang mekar. Indah sekali...foto-foto sudah pasti tidak ketinggalan :)

Tidak jauh dari Cook's Cottage bisa dijumpai satu pohon yang tinggi dan besar. Namanya "A Great Australian Tree". Pohon ini untuk mengingatkan bahwa suku Aborigin dulunya pernah tinggal disini.

Puas berjalan-jalan dan foto-foto... tidak terasa sudah lebih 2 jam berada di dalam taman Fitzroy yang indah dan sejuk. Saya melanjutkan jalan kaki mengunjungi gereja katedral St Patricks yang akan saya ceritakan di episode berikutnya. See ya....

 



 


 


 

Thursday, June 6, 2013

Angkor Wat - The Magnificent Temple

Salah satu destinasi utama saya ketika trip ke Kamboja di bulan Februari 2013 yang lalu adalah mengunjungi Wat Angkor, yang dibangun oleh Raja Suriyavarman II pada abad ke 12.

Saya menyediakan waktu untuk tinggal di Siem Reap selama 4 hari 3 malam, maksudnya biar puas bisa menjelajahi Wat Angkor. Dan sengaja pula mencari hotel yang dekat dengan Wat Angkor supaya mudah aksesnya kalau mau bolak balik masuk Wat Angkor. Begitulah....pagi-pagi saya minta pihak hotel mencarikan tuktuk untuk saya sewa selama 1 harian. Beruntung saya mendapatkan supir tuktuk yang mengerti bahasa Inggris dan bisa sedikit berbicara Inggris. Orangnya juga ramah dan baik banget. Namanya Ratna. Dia juga yang memberikan rekomendasi kepada saya tempat-tempat yang perlu dijelajahi. Sempat juga pikiran negative muncul saat dia memberi penjelasan alasannya.

Sekitar jam 8 saya sudah sampai di dalam area Wat Angkor. Woww....baru mau masuk saja sudah terlihat antrian yang panjang oleh bus-bus wisata. Untungnya saya pakai tuktuk sehingga dengan mudah melesat sampai di depan....hahaha. Supir tuktuk bilang saya harus turun dan antri, nanti dia tunggu di dalam. Di atas pintu loket ada pilihan jalur untuk yang mau membeli tiket untuk 1 hari, 3 hari atau 7 hari dengan harga yang berbeda-beda tentunya. Saya memilih karcis untuk yang 3 hari dengan harga USD40. Lumayan mahal euy....hampir Rp. 400.000 kalau di kurs ke IDR. Sebelumnya saya difoto dulu untuk dimasukkan di dalam tiketnya, jadi mirip e-ktp.

Tempat-tempat yang saya jelajahi selama 1 hari di sana adalah:
  1. Angkor Wat - setiap pengunjung hampir dipastikan akan datang ke tempat ini lebih dulu. Karena disinilah pusat sekaligus ibukota dari kerajaan Suriyavarman II. Tempat ini juga tempat favorit untuk menikmati sunrise. Dan saya juga sempat mengambil foto sunrise pada hari kedua (besoknya).
  2. Ta Phrom - tempat pengambilan casting Angelina Jolie untuk film "Tomb Rider" 
  3. Preah Khan
  4. Banteay Srei - menjadi spot untuk mengambil foto sunset
  5. Bayon
  6. Angkor Thom
  7. Phnom Bakeng - juga sebagai spot untuk foto sunset
Informasi yang mungkin berguna bila anda ingin jalan-jalan ke Angkor Wat:
  • Bila anda naik tuktuk seperti saya atau motor atau sepeda, jangan lupa bawa masker ya... karena  daerah Angkor Wat sangat berdebu, terutama pada musim panas/kemarau. 
  • Sewa tuktuk untuk 1 hari penuh berkisar antara 12 -15 US dollar (bisa ditawar). Tuktuk bisa dimuati 4-6 penumpang. Anda bisa sharing dengan teman-teman anda kalau perginya group agar biayanya lebih murah.
  • Naik sepeda mengelilingi kompleks Angkor Wat memungkinkan saja, asalkan stamina anda cukup fit karena kompleks tersebut sangat luas. Lebih cocok untuk mereka yang hobi olahraga sepeda. Biaya sewa sepeda sekitar 1 - 2 USD
  • Bawa minuman dan makanan kecil. Tuktuk yang saya sewa menyediakan minuman dingin gratis.
  • Harga karcis masuk ke Angkor Wat:
          USD20 untuk 1 hari
          USD40 untuk 3 hari
          USD60 untuk 7 hari, bisa digunakan selama 30 hari



   

Beautiful Sunrise at Angkor Wat


Ta Phrom



Peta Kompleks Angkor Wat



Wednesday, June 5, 2013

Tuk Tuk di Bangkok

Tuktuk adalah salah satu alat transportasi yang khas di negara Thailand. Bentuknya mirip dengan bajaj yang ada di Jakarta, mempunyai 3 roda dengan jendela terbuka lebar sementara supir duduk di depan. Bisa muat untuk 2-3 orang penumpang, tetapi paling pas kalau dimuati oleh 2 orang saja. Tuktuk di Thailand, khsususnya Bangkok mempunyai warna yang bervariasi, seperti merah, hijau, kuning, biru, ungu dan oranye. Selama berada di Thailand, tuktuk yang saya temui kondisi luarnya tampak bersih dan menarik dengan warna-warni cat yang cerah.

Pengalaman naik tuktuk adalah ketika saya melancong ke Bangkok di bulan Februari 2013. Pada pagi itu rencana saya adalah mengunjungi Wat Phra Kaeo. Tetapi ternyata tempat itu baru buka sekitar jam 1 siang oleh karena para pendetanya sedang ada upacara menyambut Tahun Baru umat Budha di Thailand. Daripada menunggu waktu sampai jam 1 siang, akhirnya saya memutuskan ke Pratunam Market. Karena tempatnya cukup jauh maka saya memilih tuktuk. 2 kali nyetop tuktuk tetapi supirnya tidak ada yang bersedia mengantarkan saya ke Pratunam. Tuktuk yang ke-3 akhirnya mau mengantar saya. Sebelumnya saya tanya dulu ongkos ke Pratunam berapa, dengan menggunakan bahasa tarzan untuk menjelaskan tempat yang saya tuju. Ternyata perjalanannya memang cukup jauh, ditambah keadaan lalulintasnya macet dan panas pula. Pada saat membayar ongkos, saya keluarkan uang kertas 20 Baht... wow...ternyata dia mintanya 200Baht! Mau bagaimana lagi....berpikir positif saja, mungkin memang segitu harganya.

Setelah beberapa jam di daerah Pratunam saya memutukan untuk kembali ke hotel. Di depan Platinum Fashion Mall banyak tuktuk yang ngetem. Saya agak ragu-ragu untuk naik dari tempat itu, anggapan saya pasti ongkosnya akan mahal. Tiba-tiba saja saya ingin bertanya ke penduduk lokal setempat mengenai berapa ongkos yang wajar kalau naik tuktuk ke daerah Khaosan.

Seorang bapak separuh baya dengan penampilan bersih saya hampiri. Dia memberikan informasi yang sangat berguna buat saya. Katanya, cari tuktuk yang warna catnya hijau tarifnya lebih murah karena tuktuk warna hijau dikelola oleh pemerintah. Kalau warna lainnya (merah, kuning, pink, oranye, dll) dikelola oleh pihak swasta dan tarifnya lebih mahal. Ongkos tuktuk dilihat dari jaraknya, setiap 1 km dihargai 10Baht. Wow... beruntung sekali saya memilih bapak ini. Kemudian lagi, si bapak menjelaskan kalau hari ini di Bangkok lagi ada diskon besar-besaran di satu toko perhiasan (saya lupa namanya). Toko tersebut memberikan diskon khusus hanya untuk warga Thailand dan hanya setahun sekali dalam rangka menyambut Tahun Baru Thailand. Makanya jarang sekali wisatawan asing mengetahui promo ini.

Akhir kata bapak ini membantu saya memanggilkan tuktuk dan memberitahu saya ongkosnya 40 Baht untuk sampai di tempat penginapan. Wuiihh murah bener ya...kalau dirupiahkan sekitar Rp. 12.000. Ongkos tersebut sudah termasuk mampir di 3 tempat (toko perhiasan, kantor turis untuk booking tour Damnoen Saduak dan money changer). Senangnya hari itu.....:))



Perjalanan Sehari Dengan Bus, Dari Siem Reap ke Bangkok

Salah satu cara berhemat dalam melakukan perjalanan ala backpacker adalah menggunakan moda transportasi dengan jalan darat, yaitu bus umum. Dari kota Siem Reap ke Bangkok saya menggunakan transportasi ini. Melalui informasi dari mbah Google, perjalanan dari Siem Reap ke Bangkok lebih kurang memakan waktu 7 - 8 jam. Sehari sebelumnya saya memesan bus melalui tour hotel tempat saya menginap. Tarif bus ke Bangkok USD13 dan saya memilih jadwal berangkat pagi hari jam 8. Pihak hotel mengatakan bahwa saya akan dijemput di hotel sekitar jam 7 - 7.30 dan saya sudah stand by di lobi sebelum jam 7.

Jam 7.30, sebuah minivan datang menjemput saya di hotel lalu singgah di 3 hotel berikutnya menjemput penumpang lainnya. Semuanya bule, hanya saya sendiri orang Asia. Sieam Reap tidak punya terminal bus khusus karena memang tidak ada bus umum dalam kota. Penduduk disana banyak menggunakan motor, sepeda atau tuktuk. Kami diturunkan di jalan yang ada trotoarnya, yang kata supirnya bahwa bus biasanya memang selalu berangkat dari tempat ini. Ok, kami semua percaya dan menurut apa kata supir minivan tersebut. Setengah jam berlalu dan bus belum muncul juga, sementara ada 2 minivan lainnya menurunkan penumpang di tempat saya menunggu. Kira-kira setelah 1 jam menunggu datanglah sebuah bus besar yang sudah terisi. Kami semua bingung, kalau bus sudah terisi lalu kami mau duduk dimana? Belum lagi koper dan barang mau taruh dimana? Kenek bus menyuruh sebagian naik ke dalam bus dan mengatakan akan ada bus lain yang akan mengangkut sebagiannya lagi. Saya memutuskan untuk menunggu bus berikutnya. Tidak lama bus yang dimaksud datang....dan bus tersebut besarnya seukuran bus metro. Oh my god!! Dan sudah terisi pula....ampuuun! Saya cepat-cepat naik sambil mengangkat ransel saya. Ngga bener nih...! Beda jauh dengan bus yang saya tumpangi dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, padahal tarif bus sama. Tapi apa boleh buat, ngga ada pilihan lebih baik naik saja... :(

Karena tempat duduk sudah terisi semua, maka ransel, koperpun diletakkan di tengah koridor bus sehingga penumpang yang duduk dibelakang bila ingin turun harus dengan susah payah melewati koridor tsb.

Perjalanan benar-benar tidak nyaman. Tempat duduk saya seperti orang setengah berbaring dan tidak bisa disetel. Duduk salah, mau dibawa tidurpun tidak enak. Sebelum sampai diperbatasan bus sempat berhenti 1 kali untuk yang mau beli minum atau snack dan yang mau ke toilet. 

Dari Siem Reap sampai ke perbatasan Poipet memakan waktu sekitar 2,5 jam. Semua penumpang diminta turun bersama barang-barang menuju imigrasi Kamboja untuk cap paspor. Kantor imigrasinya mirip rumah makan pinggir jalan alias warteg. Sementara turis pada hari itu cukup banyak sampai mengantri ke jalan. Dan cuaca saat itu lumayan panas.

Selesai di kantor imigrasi Kamboja, kami diarahkan melewati perbatasan dengan berjalan kaki lebih kurang 100 meter. Mengisi formulir untuk yang bukan warga negara Thailand dan kembali mengantri di kantor imigrasi Thailand. Nah....disinilah proses menunggu antrian yang sangat lama. Berdiri hampir 3 jam lamanya mengantri di kantor imigrasi ini. Edan...!!!

Setelah selesai, saya naik kendaraan seperti pick up bersama-sama dengan yang lainnya sekitar 5 menit ke Aranyaphrathet, tempat dimana banyak minivan sedang menunggu. 
Minivan yang saya tumpangi diisi 12 penumpang plus koper dan ransel. Bisa kebayang ya bagaimana sesaknya di dalam minivan tersebut....hihihi. Sekitar jam 7.30 malam akhirnya minivan sampai di Bangkok dengan selamat dan berhenti di kawasan Khaosan road. Dan saya berjalan kaki ke tempat penginapan sekitar 10 menit di Roof View Palace, Soi Samsen 6. Lega rasanya....itulah pengalaman saya sehari dalam perjalanan Siem Reap ke Bangkok dengan menggunakan bus. Seru aja rasanya dan ngga bikin kapok untuk travelling berikutnya. Ciao....!

 Dibawah ini foto-foto saat menunggu bus di pinggir jalan kota.