Sunday, August 24, 2014
Read This Before Travel To Nepal
https://docs.google.com/file/d/0B2msmWSoRFOKRFh1T0phT3pYcnM/edit?usp=docslist_api
Saturday, June 8, 2013
Walking Tour In Fitzroy Garden, Melbourne
Cara hemat untuk berwisata salah satunya adalah jalan-jalan dengan berjalan kaki tentunya.....hehehe. Ini saya lakukan sewaktu trip ke Australia akhir September tahun 2012. Tau sendiri kan, tiket pesawat pulang perginya saja sudah cukup mahal, belum lagi untuk penginapan dan makan selama 10 hari. Maka untuk menyiasati agar tetap bisa menikmati tempat-tempat wisatanya saya memilih berjalan kaki untuk beberapa tempat.
Pagi hari itu cuacanya cerah dan udaranya sejuk banget seperti di Puncak. Rasanya tepat sekali kalau saya memilih berjalan kaki ke taman ini, kebetulan taman ini dekat dengan tempat penginapan saya. Cuaca di Australian, khususnya Melbourne sedang memasuki masa transisi dari musim dingin ke musim panas. Suhu udara masih sering terasa dingin terutama di sore hari menjelang malam.
Fitzroy Garden sekilas tampak biasa saja dan tidak terlalu besar-besar amat. Tetapi ketika saya masuk dan berjalan di dalamnya ternyata cukup luas. Taman ini ada sejarahnya juga rupanya. Dibangun sekitar tahun 1850an dan diberi nama setelah Sir Charles Augustus Fitzroy menjabat sebagai Gubernur New South Wales dan Gubernur Jenderal Koloni Australia. Saat ini, tercatat sudah lebih dari 2 juta orang datang mengunjungi taman ini. Wow...fantastis ya! Nah.. di dalam taman ini ada bangunan namanya Cottage Cook (Captain James Cook). Cottage asli ini berasal dari Great Ayton, Yorkshire yang dikirim ke Australia dan ditempatkan di taman Fitzroy tahun 1934 sebagai hadiah peradaban Victoria.
Rumahnya imut, model rumah pedesaan di Inggris pertengahan abad 17....semua perabotan rumah, alat dapur, tempat tidur, dan baju-baju yang dipakai oleh James Cook dan istrinya masih tampak bagus dan awet dengan penataan yang rapi (lihat foto).
Oh ya, sebelum masuk ke Cook's Cottage, ada sebuah Conservatorium yang dibangun tahun 1930 dimana di dalamnya terdapat bunga-bunga yang sedang mekar. Indah sekali...foto-foto sudah pasti tidak ketinggalan :)
Tidak jauh dari Cook's Cottage bisa dijumpai satu pohon yang tinggi dan besar. Namanya "A Great Australian Tree". Pohon ini untuk mengingatkan bahwa suku Aborigin dulunya pernah tinggal disini.
Puas berjalan-jalan dan foto-foto... tidak terasa sudah lebih 2 jam berada di dalam taman Fitzroy yang indah dan sejuk. Saya melanjutkan jalan kaki mengunjungi gereja katedral St Patricks yang akan saya ceritakan di episode berikutnya. See ya....





Pagi hari itu cuacanya cerah dan udaranya sejuk banget seperti di Puncak. Rasanya tepat sekali kalau saya memilih berjalan kaki ke taman ini, kebetulan taman ini dekat dengan tempat penginapan saya. Cuaca di Australian, khususnya Melbourne sedang memasuki masa transisi dari musim dingin ke musim panas. Suhu udara masih sering terasa dingin terutama di sore hari menjelang malam.
Fitzroy Garden sekilas tampak biasa saja dan tidak terlalu besar-besar amat. Tetapi ketika saya masuk dan berjalan di dalamnya ternyata cukup luas. Taman ini ada sejarahnya juga rupanya. Dibangun sekitar tahun 1850an dan diberi nama setelah Sir Charles Augustus Fitzroy menjabat sebagai Gubernur New South Wales dan Gubernur Jenderal Koloni Australia. Saat ini, tercatat sudah lebih dari 2 juta orang datang mengunjungi taman ini. Wow...fantastis ya! Nah.. di dalam taman ini ada bangunan namanya Cottage Cook (Captain James Cook). Cottage asli ini berasal dari Great Ayton, Yorkshire yang dikirim ke Australia dan ditempatkan di taman Fitzroy tahun 1934 sebagai hadiah peradaban Victoria.
Rumahnya imut, model rumah pedesaan di Inggris pertengahan abad 17....semua perabotan rumah, alat dapur, tempat tidur, dan baju-baju yang dipakai oleh James Cook dan istrinya masih tampak bagus dan awet dengan penataan yang rapi (lihat foto).
Oh ya, sebelum masuk ke Cook's Cottage, ada sebuah Conservatorium yang dibangun tahun 1930 dimana di dalamnya terdapat bunga-bunga yang sedang mekar. Indah sekali...foto-foto sudah pasti tidak ketinggalan :)
Tidak jauh dari Cook's Cottage bisa dijumpai satu pohon yang tinggi dan besar. Namanya "A Great Australian Tree". Pohon ini untuk mengingatkan bahwa suku Aborigin dulunya pernah tinggal disini.
Puas berjalan-jalan dan foto-foto... tidak terasa sudah lebih 2 jam berada di dalam taman Fitzroy yang indah dan sejuk. Saya melanjutkan jalan kaki mengunjungi gereja katedral St Patricks yang akan saya ceritakan di episode berikutnya. See ya....




Thursday, June 6, 2013
Angkor Wat - The Magnificent Temple
Salah satu destinasi utama saya ketika trip ke Kamboja di bulan Februari 2013 yang lalu adalah mengunjungi Wat Angkor, yang dibangun oleh Raja Suriyavarman II pada abad ke 12.
Saya menyediakan waktu untuk tinggal di Siem Reap selama 4 hari 3 malam, maksudnya biar puas bisa menjelajahi Wat Angkor. Dan sengaja pula mencari hotel yang dekat dengan Wat Angkor supaya mudah aksesnya kalau mau bolak balik masuk Wat Angkor. Begitulah....pagi-pagi saya minta pihak hotel mencarikan tuktuk untuk saya sewa selama 1 harian. Beruntung saya mendapatkan supir tuktuk yang mengerti bahasa Inggris dan bisa sedikit berbicara Inggris. Orangnya juga ramah dan baik banget. Namanya Ratna. Dia juga yang memberikan rekomendasi kepada saya tempat-tempat yang perlu dijelajahi. Sempat juga pikiran negative muncul saat dia memberi penjelasan alasannya.
Sekitar jam 8 saya sudah sampai di dalam area Wat Angkor. Woww....baru mau masuk saja sudah terlihat antrian yang panjang oleh bus-bus wisata. Untungnya saya pakai tuktuk sehingga dengan mudah melesat sampai di depan....hahaha. Supir tuktuk bilang saya harus turun dan antri, nanti dia tunggu di dalam. Di atas pintu loket ada pilihan jalur untuk yang mau membeli tiket untuk 1 hari, 3 hari atau 7 hari dengan harga yang berbeda-beda tentunya. Saya memilih karcis untuk yang 3 hari dengan harga USD40. Lumayan mahal euy....hampir Rp. 400.000 kalau di kurs ke IDR. Sebelumnya saya difoto dulu untuk dimasukkan di dalam tiketnya, jadi mirip e-ktp.
Tempat-tempat yang saya jelajahi selama 1 hari di sana adalah:
USD40 untuk 3 hari
USD60 untuk 7 hari, bisa digunakan selama 30 hari
Saya menyediakan waktu untuk tinggal di Siem Reap selama 4 hari 3 malam, maksudnya biar puas bisa menjelajahi Wat Angkor. Dan sengaja pula mencari hotel yang dekat dengan Wat Angkor supaya mudah aksesnya kalau mau bolak balik masuk Wat Angkor. Begitulah....pagi-pagi saya minta pihak hotel mencarikan tuktuk untuk saya sewa selama 1 harian. Beruntung saya mendapatkan supir tuktuk yang mengerti bahasa Inggris dan bisa sedikit berbicara Inggris. Orangnya juga ramah dan baik banget. Namanya Ratna. Dia juga yang memberikan rekomendasi kepada saya tempat-tempat yang perlu dijelajahi. Sempat juga pikiran negative muncul saat dia memberi penjelasan alasannya.
Sekitar jam 8 saya sudah sampai di dalam area Wat Angkor. Woww....baru mau masuk saja sudah terlihat antrian yang panjang oleh bus-bus wisata. Untungnya saya pakai tuktuk sehingga dengan mudah melesat sampai di depan....hahaha. Supir tuktuk bilang saya harus turun dan antri, nanti dia tunggu di dalam. Di atas pintu loket ada pilihan jalur untuk yang mau membeli tiket untuk 1 hari, 3 hari atau 7 hari dengan harga yang berbeda-beda tentunya. Saya memilih karcis untuk yang 3 hari dengan harga USD40. Lumayan mahal euy....hampir Rp. 400.000 kalau di kurs ke IDR. Sebelumnya saya difoto dulu untuk dimasukkan di dalam tiketnya, jadi mirip e-ktp.
Tempat-tempat yang saya jelajahi selama 1 hari di sana adalah:
- Angkor Wat - setiap pengunjung hampir dipastikan akan datang ke tempat ini lebih dulu. Karena disinilah pusat sekaligus ibukota dari kerajaan Suriyavarman II. Tempat ini juga tempat favorit untuk menikmati sunrise. Dan saya juga sempat mengambil foto sunrise pada hari kedua (besoknya).
- Ta Phrom - tempat pengambilan casting Angelina Jolie untuk film "Tomb Rider"
- Preah Khan
- Banteay Srei - menjadi spot untuk mengambil foto sunset
- Bayon
- Angkor Thom
- Phnom Bakeng - juga sebagai spot untuk foto sunset
- Bila anda naik tuktuk seperti saya atau motor atau sepeda, jangan lupa bawa masker ya... karena daerah Angkor Wat sangat berdebu, terutama pada musim panas/kemarau.
- Sewa tuktuk untuk 1 hari penuh berkisar antara 12 -15 US dollar (bisa ditawar). Tuktuk bisa dimuati 4-6 penumpang. Anda bisa sharing dengan teman-teman anda kalau perginya group agar biayanya lebih murah.
- Naik sepeda mengelilingi kompleks Angkor Wat memungkinkan saja, asalkan stamina anda cukup fit karena kompleks tersebut sangat luas. Lebih cocok untuk mereka yang hobi olahraga sepeda. Biaya sewa sepeda sekitar 1 - 2 USD
- Bawa minuman dan makanan kecil. Tuktuk yang saya sewa menyediakan minuman dingin gratis.
- Harga karcis masuk ke Angkor Wat:
USD40 untuk 3 hari
USD60 untuk 7 hari, bisa digunakan selama 30 hari
|
Beautiful Sunrise at Angkor Wat![]() |
| Ta Phrom |
![]() |
| Peta Kompleks Angkor Wat |
Wednesday, June 5, 2013
Tuk Tuk di Bangkok
Tuktuk adalah salah satu alat transportasi yang khas di negara Thailand. Bentuknya mirip dengan bajaj yang ada di Jakarta, mempunyai 3 roda dengan jendela terbuka lebar sementara supir duduk di depan. Bisa muat untuk 2-3 orang penumpang, tetapi paling pas kalau dimuati oleh 2 orang saja. Tuktuk di Thailand, khsususnya Bangkok mempunyai warna yang bervariasi, seperti merah, hijau, kuning, biru, ungu dan oranye. Selama berada di Thailand, tuktuk yang saya temui kondisi luarnya tampak bersih dan menarik dengan warna-warni cat yang cerah.
Pengalaman naik tuktuk adalah ketika saya melancong ke Bangkok di bulan Februari 2013. Pada pagi itu rencana saya adalah mengunjungi Wat Phra Kaeo. Tetapi ternyata tempat itu baru buka sekitar jam 1 siang oleh karena para pendetanya sedang ada upacara menyambut Tahun Baru umat Budha di Thailand. Daripada menunggu waktu sampai jam 1 siang, akhirnya saya memutuskan ke Pratunam Market. Karena tempatnya cukup jauh maka saya memilih tuktuk. 2 kali nyetop tuktuk tetapi supirnya tidak ada yang bersedia mengantarkan saya ke Pratunam. Tuktuk yang ke-3 akhirnya mau mengantar saya. Sebelumnya saya tanya dulu ongkos ke Pratunam berapa, dengan menggunakan bahasa tarzan untuk menjelaskan tempat yang saya tuju. Ternyata perjalanannya memang cukup jauh, ditambah keadaan lalulintasnya macet dan panas pula. Pada saat membayar ongkos, saya keluarkan uang kertas 20 Baht... wow...ternyata dia mintanya 200Baht! Mau bagaimana lagi....berpikir positif saja, mungkin memang segitu harganya.
Setelah beberapa jam di daerah Pratunam saya memutukan untuk kembali ke hotel. Di depan Platinum Fashion Mall banyak tuktuk yang ngetem. Saya agak ragu-ragu untuk naik dari tempat itu, anggapan saya pasti ongkosnya akan mahal. Tiba-tiba saja saya ingin bertanya ke penduduk lokal setempat mengenai berapa ongkos yang wajar kalau naik tuktuk ke daerah Khaosan.
Seorang bapak separuh baya dengan penampilan bersih saya hampiri. Dia memberikan informasi yang sangat berguna buat saya. Katanya, cari tuktuk yang warna catnya hijau tarifnya lebih murah karena tuktuk warna hijau dikelola oleh pemerintah. Kalau warna lainnya (merah, kuning, pink, oranye, dll) dikelola oleh pihak swasta dan tarifnya lebih mahal. Ongkos tuktuk dilihat dari jaraknya, setiap 1 km dihargai 10Baht. Wow... beruntung sekali saya memilih bapak ini. Kemudian lagi, si bapak menjelaskan kalau hari ini di Bangkok lagi ada diskon besar-besaran di satu toko perhiasan (saya lupa namanya). Toko tersebut memberikan diskon khusus hanya untuk warga Thailand dan hanya setahun sekali dalam rangka menyambut Tahun Baru Thailand. Makanya jarang sekali wisatawan asing mengetahui promo ini.
Akhir kata bapak ini membantu saya memanggilkan tuktuk dan memberitahu saya ongkosnya 40 Baht untuk sampai di tempat penginapan. Wuiihh murah bener ya...kalau dirupiahkan sekitar Rp. 12.000. Ongkos tersebut sudah termasuk mampir di 3 tempat (toko perhiasan, kantor turis untuk booking tour Damnoen Saduak dan money changer). Senangnya hari itu.....:))
Pengalaman naik tuktuk adalah ketika saya melancong ke Bangkok di bulan Februari 2013. Pada pagi itu rencana saya adalah mengunjungi Wat Phra Kaeo. Tetapi ternyata tempat itu baru buka sekitar jam 1 siang oleh karena para pendetanya sedang ada upacara menyambut Tahun Baru umat Budha di Thailand. Daripada menunggu waktu sampai jam 1 siang, akhirnya saya memutuskan ke Pratunam Market. Karena tempatnya cukup jauh maka saya memilih tuktuk. 2 kali nyetop tuktuk tetapi supirnya tidak ada yang bersedia mengantarkan saya ke Pratunam. Tuktuk yang ke-3 akhirnya mau mengantar saya. Sebelumnya saya tanya dulu ongkos ke Pratunam berapa, dengan menggunakan bahasa tarzan untuk menjelaskan tempat yang saya tuju. Ternyata perjalanannya memang cukup jauh, ditambah keadaan lalulintasnya macet dan panas pula. Pada saat membayar ongkos, saya keluarkan uang kertas 20 Baht... wow...ternyata dia mintanya 200Baht! Mau bagaimana lagi....berpikir positif saja, mungkin memang segitu harganya.
Setelah beberapa jam di daerah Pratunam saya memutukan untuk kembali ke hotel. Di depan Platinum Fashion Mall banyak tuktuk yang ngetem. Saya agak ragu-ragu untuk naik dari tempat itu, anggapan saya pasti ongkosnya akan mahal. Tiba-tiba saja saya ingin bertanya ke penduduk lokal setempat mengenai berapa ongkos yang wajar kalau naik tuktuk ke daerah Khaosan.
Seorang bapak separuh baya dengan penampilan bersih saya hampiri. Dia memberikan informasi yang sangat berguna buat saya. Katanya, cari tuktuk yang warna catnya hijau tarifnya lebih murah karena tuktuk warna hijau dikelola oleh pemerintah. Kalau warna lainnya (merah, kuning, pink, oranye, dll) dikelola oleh pihak swasta dan tarifnya lebih mahal. Ongkos tuktuk dilihat dari jaraknya, setiap 1 km dihargai 10Baht. Wow... beruntung sekali saya memilih bapak ini. Kemudian lagi, si bapak menjelaskan kalau hari ini di Bangkok lagi ada diskon besar-besaran di satu toko perhiasan (saya lupa namanya). Toko tersebut memberikan diskon khusus hanya untuk warga Thailand dan hanya setahun sekali dalam rangka menyambut Tahun Baru Thailand. Makanya jarang sekali wisatawan asing mengetahui promo ini.
Akhir kata bapak ini membantu saya memanggilkan tuktuk dan memberitahu saya ongkosnya 40 Baht untuk sampai di tempat penginapan. Wuiihh murah bener ya...kalau dirupiahkan sekitar Rp. 12.000. Ongkos tersebut sudah termasuk mampir di 3 tempat (toko perhiasan, kantor turis untuk booking tour Damnoen Saduak dan money changer). Senangnya hari itu.....:))
Perjalanan Sehari Dengan Bus, Dari Siem Reap ke Bangkok
Salah satu cara berhemat dalam melakukan perjalanan ala backpacker adalah menggunakan moda transportasi dengan jalan darat, yaitu bus umum. Dari kota Siem Reap ke Bangkok saya menggunakan transportasi ini. Melalui informasi dari mbah Google, perjalanan dari Siem Reap ke Bangkok lebih kurang memakan waktu 7 - 8 jam. Sehari sebelumnya saya memesan bus melalui tour hotel tempat saya menginap. Tarif bus ke Bangkok USD13 dan saya memilih jadwal berangkat pagi hari jam 8. Pihak hotel mengatakan bahwa saya akan dijemput di hotel sekitar jam 7 - 7.30 dan saya sudah stand by di lobi sebelum jam 7.
Jam 7.30, sebuah minivan datang menjemput saya di hotel lalu singgah di 3 hotel berikutnya menjemput penumpang lainnya. Semuanya bule, hanya saya sendiri orang Asia. Sieam Reap tidak punya terminal bus khusus karena memang tidak ada bus umum dalam kota. Penduduk disana banyak menggunakan motor, sepeda atau tuktuk. Kami diturunkan di jalan yang ada trotoarnya, yang kata supirnya bahwa bus biasanya memang selalu berangkat dari tempat ini. Ok, kami semua percaya dan menurut apa kata supir minivan tersebut. Setengah jam berlalu dan bus belum muncul juga, sementara ada 2 minivan lainnya menurunkan penumpang di tempat saya menunggu. Kira-kira setelah 1 jam menunggu datanglah sebuah bus besar yang sudah terisi. Kami semua bingung, kalau bus sudah terisi lalu kami mau duduk dimana? Belum lagi koper dan barang mau taruh dimana? Kenek bus menyuruh sebagian naik ke dalam bus dan mengatakan akan ada bus lain yang akan mengangkut sebagiannya lagi. Saya memutuskan untuk menunggu bus berikutnya. Tidak lama bus yang dimaksud datang....dan bus tersebut besarnya seukuran bus metro. Oh my god!! Dan sudah terisi pula....ampuuun! Saya cepat-cepat naik sambil mengangkat ransel saya. Ngga bener nih...! Beda jauh dengan bus yang saya tumpangi dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, padahal tarif bus sama. Tapi apa boleh buat, ngga ada pilihan lebih baik naik saja... :(
Karena tempat duduk sudah terisi semua, maka ransel, koperpun diletakkan di tengah koridor bus sehingga penumpang yang duduk dibelakang bila ingin turun harus dengan susah payah melewati koridor tsb.
Perjalanan benar-benar tidak nyaman. Tempat duduk saya seperti orang setengah berbaring dan tidak bisa disetel. Duduk salah, mau dibawa tidurpun tidak enak. Sebelum sampai diperbatasan bus sempat berhenti 1 kali untuk yang mau beli minum atau snack dan yang mau ke toilet.
Dari Siem Reap sampai ke perbatasan Poipet memakan waktu sekitar 2,5 jam. Semua penumpang diminta turun bersama barang-barang menuju imigrasi Kamboja untuk cap paspor. Kantor imigrasinya mirip rumah makan pinggir jalan alias warteg. Sementara turis pada hari itu cukup banyak sampai mengantri ke jalan. Dan cuaca saat itu lumayan panas.
Selesai di kantor imigrasi Kamboja, kami diarahkan melewati perbatasan dengan berjalan kaki lebih kurang 100 meter. Mengisi formulir untuk yang bukan warga negara Thailand dan kembali mengantri di kantor imigrasi Thailand. Nah....disinilah proses menunggu antrian yang sangat lama. Berdiri hampir 3 jam lamanya mengantri di kantor imigrasi ini. Edan...!!!
Setelah selesai, saya naik kendaraan seperti pick up bersama-sama dengan yang lainnya sekitar 5 menit ke Aranyaphrathet, tempat dimana banyak minivan sedang menunggu.
Minivan yang saya tumpangi diisi 12 penumpang plus koper dan ransel. Bisa kebayang ya bagaimana sesaknya di dalam minivan tersebut....hihihi. Sekitar jam 7.30 malam akhirnya minivan sampai di Bangkok dengan selamat dan berhenti di kawasan Khaosan road. Dan saya berjalan kaki ke tempat penginapan sekitar 10 menit di Roof View Palace, Soi Samsen 6. Lega rasanya....itulah pengalaman saya sehari dalam perjalanan Siem Reap ke Bangkok dengan menggunakan bus. Seru aja rasanya dan ngga bikin kapok untuk travelling berikutnya. Ciao....!
Dibawah ini foto-foto saat menunggu bus di pinggir jalan kota.
Jam 7.30, sebuah minivan datang menjemput saya di hotel lalu singgah di 3 hotel berikutnya menjemput penumpang lainnya. Semuanya bule, hanya saya sendiri orang Asia. Sieam Reap tidak punya terminal bus khusus karena memang tidak ada bus umum dalam kota. Penduduk disana banyak menggunakan motor, sepeda atau tuktuk. Kami diturunkan di jalan yang ada trotoarnya, yang kata supirnya bahwa bus biasanya memang selalu berangkat dari tempat ini. Ok, kami semua percaya dan menurut apa kata supir minivan tersebut. Setengah jam berlalu dan bus belum muncul juga, sementara ada 2 minivan lainnya menurunkan penumpang di tempat saya menunggu. Kira-kira setelah 1 jam menunggu datanglah sebuah bus besar yang sudah terisi. Kami semua bingung, kalau bus sudah terisi lalu kami mau duduk dimana? Belum lagi koper dan barang mau taruh dimana? Kenek bus menyuruh sebagian naik ke dalam bus dan mengatakan akan ada bus lain yang akan mengangkut sebagiannya lagi. Saya memutuskan untuk menunggu bus berikutnya. Tidak lama bus yang dimaksud datang....dan bus tersebut besarnya seukuran bus metro. Oh my god!! Dan sudah terisi pula....ampuuun! Saya cepat-cepat naik sambil mengangkat ransel saya. Ngga bener nih...! Beda jauh dengan bus yang saya tumpangi dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, padahal tarif bus sama. Tapi apa boleh buat, ngga ada pilihan lebih baik naik saja... :(
Karena tempat duduk sudah terisi semua, maka ransel, koperpun diletakkan di tengah koridor bus sehingga penumpang yang duduk dibelakang bila ingin turun harus dengan susah payah melewati koridor tsb.
Perjalanan benar-benar tidak nyaman. Tempat duduk saya seperti orang setengah berbaring dan tidak bisa disetel. Duduk salah, mau dibawa tidurpun tidak enak. Sebelum sampai diperbatasan bus sempat berhenti 1 kali untuk yang mau beli minum atau snack dan yang mau ke toilet.
Dari Siem Reap sampai ke perbatasan Poipet memakan waktu sekitar 2,5 jam. Semua penumpang diminta turun bersama barang-barang menuju imigrasi Kamboja untuk cap paspor. Kantor imigrasinya mirip rumah makan pinggir jalan alias warteg. Sementara turis pada hari itu cukup banyak sampai mengantri ke jalan. Dan cuaca saat itu lumayan panas.
Selesai di kantor imigrasi Kamboja, kami diarahkan melewati perbatasan dengan berjalan kaki lebih kurang 100 meter. Mengisi formulir untuk yang bukan warga negara Thailand dan kembali mengantri di kantor imigrasi Thailand. Nah....disinilah proses menunggu antrian yang sangat lama. Berdiri hampir 3 jam lamanya mengantri di kantor imigrasi ini. Edan...!!!
Setelah selesai, saya naik kendaraan seperti pick up bersama-sama dengan yang lainnya sekitar 5 menit ke Aranyaphrathet, tempat dimana banyak minivan sedang menunggu.
Minivan yang saya tumpangi diisi 12 penumpang plus koper dan ransel. Bisa kebayang ya bagaimana sesaknya di dalam minivan tersebut....hihihi. Sekitar jam 7.30 malam akhirnya minivan sampai di Bangkok dengan selamat dan berhenti di kawasan Khaosan road. Dan saya berjalan kaki ke tempat penginapan sekitar 10 menit di Roof View Palace, Soi Samsen 6. Lega rasanya....itulah pengalaman saya sehari dalam perjalanan Siem Reap ke Bangkok dengan menggunakan bus. Seru aja rasanya dan ngga bikin kapok untuk travelling berikutnya. Ciao....!
Dibawah ini foto-foto saat menunggu bus di pinggir jalan kota.
Tuesday, May 28, 2013
War Remnants Museum - Ho Chi Minh City, Vietnam
Bila anda berwisata ke kota Ho Chi Minh, Vietnam, cobalah untuk datang mengunjungi museum ini sebagai salah satu objek wisata yang saya rekomendasikan. Musium ini letaknya tidak jauh dari kawasan backpacker yang terkenal, Pham Ngu Lao, sehingga anda dapat berjalan kaki menuju tempat ini. Cukup membayar karcis masuk seharga15,000 Dong atau sekitar Rp. 7,000 per orang, anda sudah dapat memasuki musium ini.
Kisah perang Vietnam di tahun 70an antara tentara Amerika melawan tentara Vietkong, korban dan dampak dari akibat perang yang diderita oleh rakyat Vietnam banyak didokumentasikan di musium ini. Selain foto-foto yang mengisahkan berlangsung perang tersebut, juga ada tank dan pesawat tempur yang dipakai oleh tentara Amerika dan China. Berbagai jenis senjata, granat dan kepingan bom yang hancur pun kita bisa lihat di dalam musium ini.
Informasi lengkap mengenai musium ini bisa lihat di http://warremnantsmuseum.com/
War Remnants Museum (Nha Trung Bay Toi Ac Chien Tranh)
Alamat: 28 Vo Van Tan, Ward 6, District 3, HCMC
Harga karcis VND15,000
Buka jam: 7.30 - 12.00 dan 13.30 - 17.00


Sidney Sightseeing in One Day
Di saat saya mendapat kesempatan mengikuti suami training di negeri Kangguru bulan Oktober 2012 lalu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Saya berangkat lebih dulu dari suami karena ingin mengunjungi kota dimana Tante saya tinggal yaitu di Gold Coast dan menginap beberapa hari di sana.
Dari Gold Coast menuju kota Sidney saya naik pesawat JetStar, selanjutnya dari Sidney ke Melbourne saya naik KA malam (sleeper train) yang sudah saya booking melalui internet sewaktu di Jakarta. Nah, selama lebih kurang12 jam menunggu jadwal KA itulah saya pergunakan sebaik-baiknya untuk berjalan-jalan di kota Sidney.
Selesai urusan imigrasi dan pengambilan bagasi di Bandara Kingsford Smith Sydney, saya mencari stasiun KA yang berada di bandara. Untungnya tidak susah mencarinya, karena petunjuknya mudah terlihat sehingga saya hanya mengikuti signboard tersebut. Beli karcis di loket seharga AUD15 untuk sekali jalan dan turun di Central Station, karena di stasiun inilah saya akan berangkat menuju Melbourne menggunakan "sleeper train". http://www.airportlink.com.au/index.php
Sesampainya di Central Station, saya mencoba mencari counter/kantor Countrylink. Maksudnya kalau sudah tahu persis tempatnya saya tidak usah repot mencari-cari lagi nantinya dan siapa tahu juga bisa early check-in supaya koper bisa langsung dititipkan. Dan setelah ketemu kantornya ternyata bisa langsung check in dan koperpun bisa langsung di drop. Dengan demikian saya bebas jalan-jalan tanpa harus repot membawa koper...:). Disini saya tautkan link mengenai jadwal KA antar kota di Australia. http://www.countrylink.info/timetables
Dari Central Station saya naik train ke Circular Quay. Ini adalah tempat yang sangat populer dan setiap turis pasti wajib ke tempat ini, karena dari tempat ini bisa akses menuju gedung Opera House dan dari tempat ini juga bisa melihat jembatan yang terkenal Harbour Bridge, seperti foto yang saya lampirkan dibawah ini.
Hari itu adalah hari Minggu dan udara sangat cerah sekali, sehingga di Circular Quay ini ramai pengunjung. Selain turis, penduduk lokalpun datang ke tempat ini yang kebanyakan datang bersama keluarganya untuk berekreasi. Apalagi matahari bersinar dengan terangnya sehingga banyak sekali bule-bule yang berjemur di taman "Botanical Garden" (tempat ini juga berdekatan dengan Botanical Garden). Sementara saya sendiri duduk-duduk dibawah pohon rindang sambil menikmati makan siang yang saya beli di dekat stasiun Circular Station. Puas berjalan-jalan sekitar Opera House dan berfoto-foto (sekali-sekali minta tolong pengunjung lain untuk mengambil foto saya....hehehe), saya pergi ke booth Sydney 's Tourist Bus Service. Tempatnya masih di sekitar Circular Quay.
Dengan membayar AUD40 (dewasa), saya dapat mengelilingi kota Sydney selama 90 menit dengan 34 kali perhentian menggunakan bus bertingkat atau "double decker bus". Dengan bus ini penumpang dapat naik dan turun tanpa harus membayar lagi yang berlaku untuk 1 hari saja (24 jam), atau istilahnya "Hop On - Hop Off". Beberapa tempat objek wisata yang disinggahi oleh bus ini adalah: Harbour Bridge, Opera House, Circular Quay, The Rocks, Darling Harbour, Kings Cross, Bondi Beach. Tiket bus ini juga bisa dibeli secara online di http://www.citysightseeing.com.au
Dari Gold Coast menuju kota Sidney saya naik pesawat JetStar, selanjutnya dari Sidney ke Melbourne saya naik KA malam (sleeper train) yang sudah saya booking melalui internet sewaktu di Jakarta. Nah, selama lebih kurang12 jam menunggu jadwal KA itulah saya pergunakan sebaik-baiknya untuk berjalan-jalan di kota Sidney.
Selesai urusan imigrasi dan pengambilan bagasi di Bandara Kingsford Smith Sydney, saya mencari stasiun KA yang berada di bandara. Untungnya tidak susah mencarinya, karena petunjuknya mudah terlihat sehingga saya hanya mengikuti signboard tersebut. Beli karcis di loket seharga AUD15 untuk sekali jalan dan turun di Central Station, karena di stasiun inilah saya akan berangkat menuju Melbourne menggunakan "sleeper train". http://www.airportlink.com.au/index.php
Sesampainya di Central Station, saya mencoba mencari counter/kantor Countrylink. Maksudnya kalau sudah tahu persis tempatnya saya tidak usah repot mencari-cari lagi nantinya dan siapa tahu juga bisa early check-in supaya koper bisa langsung dititipkan. Dan setelah ketemu kantornya ternyata bisa langsung check in dan koperpun bisa langsung di drop. Dengan demikian saya bebas jalan-jalan tanpa harus repot membawa koper...:). Disini saya tautkan link mengenai jadwal KA antar kota di Australia. http://www.countrylink.info/timetables
Dari Central Station saya naik train ke Circular Quay. Ini adalah tempat yang sangat populer dan setiap turis pasti wajib ke tempat ini, karena dari tempat ini bisa akses menuju gedung Opera House dan dari tempat ini juga bisa melihat jembatan yang terkenal Harbour Bridge, seperti foto yang saya lampirkan dibawah ini.
Hari itu adalah hari Minggu dan udara sangat cerah sekali, sehingga di Circular Quay ini ramai pengunjung. Selain turis, penduduk lokalpun datang ke tempat ini yang kebanyakan datang bersama keluarganya untuk berekreasi. Apalagi matahari bersinar dengan terangnya sehingga banyak sekali bule-bule yang berjemur di taman "Botanical Garden" (tempat ini juga berdekatan dengan Botanical Garden). Sementara saya sendiri duduk-duduk dibawah pohon rindang sambil menikmati makan siang yang saya beli di dekat stasiun Circular Station. Puas berjalan-jalan sekitar Opera House dan berfoto-foto (sekali-sekali minta tolong pengunjung lain untuk mengambil foto saya....hehehe), saya pergi ke booth Sydney 's Tourist Bus Service. Tempatnya masih di sekitar Circular Quay.
Dengan membayar AUD40 (dewasa), saya dapat mengelilingi kota Sydney selama 90 menit dengan 34 kali perhentian menggunakan bus bertingkat atau "double decker bus". Dengan bus ini penumpang dapat naik dan turun tanpa harus membayar lagi yang berlaku untuk 1 hari saja (24 jam), atau istilahnya "Hop On - Hop Off". Beberapa tempat objek wisata yang disinggahi oleh bus ini adalah: Harbour Bridge, Opera House, Circular Quay, The Rocks, Darling Harbour, Kings Cross, Bondi Beach. Tiket bus ini juga bisa dibeli secara online di http://www.citysightseeing.com.au
Monday, May 20, 2013
Cycling Tour in Melbourne
Setelah beberapa hari berkeliling kota Melbourne dengan moda transportasi tram, metro train dan berjalan kaki, sekarang waktunya untuk berjalan-jalan naik sepeda.
Pagi hari itu udara cerah, saya menyewa sepeda di daerah Flinders Street, tepatnya 62 Rebecca Walk. Pemiliknya bernama Mike Murray, orangnya ramah dan welcome banget. Sehari sebelumnya saya sudah menelepon Mike untuk memberitahu bahwa saya akan menyewa sepeda untuk besok harinya. Pagi-pagi jam 9 saya sudah berada disana. Sepertinya tokonya baru saja buka karena di saat saya datang, terlihat Mike dan 1 orang staffnya sedang mengeluarkan sepeda-sepedanya. Mike meminta saya mengisi form dan menyerahkan kartu identitas sebagai jaminan selama waktu sewa. Saya ambil paket sewa yang 3 jam dengan tarif AUD25 tapi Mike memberikan discount khusus untuk saya sehingga saya hanya membayar AUD20....hehehe... thank you Mike!
Sebelum dinaiki, sepeda diperiksa lebih dulu kondisinya dan Mike memberikan selembar fotocopy map rute-rute sepeda yang bisa dipilih dan juga kunci sepeda. Selain itu tentu saja saya wajib memakai helmet.
Pagi hari itu udara cerah, saya menyewa sepeda di daerah Flinders Street, tepatnya 62 Rebecca Walk. Pemiliknya bernama Mike Murray, orangnya ramah dan welcome banget. Sehari sebelumnya saya sudah menelepon Mike untuk memberitahu bahwa saya akan menyewa sepeda untuk besok harinya. Pagi-pagi jam 9 saya sudah berada disana. Sepertinya tokonya baru saja buka karena di saat saya datang, terlihat Mike dan 1 orang staffnya sedang mengeluarkan sepeda-sepedanya. Mike meminta saya mengisi form dan menyerahkan kartu identitas sebagai jaminan selama waktu sewa. Saya ambil paket sewa yang 3 jam dengan tarif AUD25 tapi Mike memberikan discount khusus untuk saya sehingga saya hanya membayar AUD20....hehehe... thank you Mike!
Sebelum dinaiki, sepeda diperiksa lebih dulu kondisinya dan Mike memberikan selembar fotocopy map rute-rute sepeda yang bisa dipilih dan juga kunci sepeda. Selain itu tentu saja saya wajib memakai helmet.
Setelah membaca rute-rute sepeda yang diberikan oleh Mike, saya memilih untuk menyusuri pantai St. Kilda. Dan Mike dengan baik hati menemani saya mengarahkan jalan pintas yang aman untuk saya lewati sampai dekat rel kereta api. Setelah itu saya jalan sendiri.... menikmati udara pagi yang cerah dan sedikit berangin. Sekali-sekali saya berhenti untuk mengambil beberapa foto, seperti yang terlihat dibawah ini.
From Phuket to Hatyai by bus
Pada akhirnya saya memilih transportasi bus umum untuk menuju Hatyai. Setelah bertanya di beberapa travel agent yang menyediakan tiket bus dari Phuket ke Hatyai, sebenarnya mereka menawarkan kendaraan mini van dengan harga berkisar 600 - 700 Baht per orang. Lumayan cukup mahal buat saya yang travellling ala Backpacker. Dan travel agent hanya mempunyai jadwal 1 x saja dalam sehari yaitu berangkat dari Phuket jam 09.00 pagi, tidak ada pilihan lain. Sementara dengan bus umum hampir setiap jam.
Dari Patong ke kota Phuket saya naik taksi seharga 500 Baht. Kebetulan saya berdua dengan teman sehingga kami bayar berdua masing-masing 250 Baht. Tadinya ingin mencoba naik tuktuk, ternyata ongkosnya malah lebih mahal, yaitu 600Baht. Kalau ramai-ramai (maksimum 6 orang) jatuhnya memang akan lebih murah, jadi 100 Baht per orangnya.
Perjalanan menuju terminal bus Phuket lebih kurang 45 menit. Letaknya agak di pinggir kota. Sebelumnya terminal tersebut berada di jalan Pha Nga, daerah Old Phuket Town. Sampai di sana langsung menuju loket penjualan karcis yang rute Hatyai. Ada banyak loket di sana dengan tujuan kota yang berbeda-beda. Saya ambil yang kelas 1 AC seharga THB350, berangkat jam 11.30. Sesuai dengan jadwal, bus bergerak keluar terminal menuju Hatyai. Lama perjalanan 7 jam melewati kota Krabi. Selama perjalanan tidak ada istirahat / break, hanya ambil penumpang di sejumlah lokasi tapi langsung jalan lagi. Dan menurunkan beberapa penumpang menjelang kota Hatyai. Kirain di kasih waktu untuk ke toilet, ternyata tidak sama sekali. Sempat berhenti di suatu tempat pada saat pengisian bensin dan supirnya juga mau makan (restoran dan pompa bensin bersebelahan), saya langsung turun untuk ke toilet dan beli minuman dan makanan kecil.
Bus sampai di terminal bus kota Hatyai persis jam 6.30. Dari situ saya naik tuktuk ke hotel tempat saya menginap, ongkosnya 120Baht - sebelumnya supirnya minta 150Baht. Bisa nawar juga di negara orang... walau hanya dengan gerakan jari....hehehe
Beberapa foto di terminal bus Phuket.
Foto 1 - Bus yang saya tumpangi, kelas 1 AC
Foto 2 - ruang tunggu di dalam terminal
Foto 3 - loket penjualan karcis bus
Dari Patong ke kota Phuket saya naik taksi seharga 500 Baht. Kebetulan saya berdua dengan teman sehingga kami bayar berdua masing-masing 250 Baht. Tadinya ingin mencoba naik tuktuk, ternyata ongkosnya malah lebih mahal, yaitu 600Baht. Kalau ramai-ramai (maksimum 6 orang) jatuhnya memang akan lebih murah, jadi 100 Baht per orangnya.
Perjalanan menuju terminal bus Phuket lebih kurang 45 menit. Letaknya agak di pinggir kota. Sebelumnya terminal tersebut berada di jalan Pha Nga, daerah Old Phuket Town. Sampai di sana langsung menuju loket penjualan karcis yang rute Hatyai. Ada banyak loket di sana dengan tujuan kota yang berbeda-beda. Saya ambil yang kelas 1 AC seharga THB350, berangkat jam 11.30. Sesuai dengan jadwal, bus bergerak keluar terminal menuju Hatyai. Lama perjalanan 7 jam melewati kota Krabi. Selama perjalanan tidak ada istirahat / break, hanya ambil penumpang di sejumlah lokasi tapi langsung jalan lagi. Dan menurunkan beberapa penumpang menjelang kota Hatyai. Kirain di kasih waktu untuk ke toilet, ternyata tidak sama sekali. Sempat berhenti di suatu tempat pada saat pengisian bensin dan supirnya juga mau makan (restoran dan pompa bensin bersebelahan), saya langsung turun untuk ke toilet dan beli minuman dan makanan kecil.
Bus sampai di terminal bus kota Hatyai persis jam 6.30. Dari situ saya naik tuktuk ke hotel tempat saya menginap, ongkosnya 120Baht - sebelumnya supirnya minta 150Baht. Bisa nawar juga di negara orang... walau hanya dengan gerakan jari....hehehe
Beberapa foto di terminal bus Phuket.
Foto 1 - Bus yang saya tumpangi, kelas 1 AC
Foto 2 - ruang tunggu di dalam terminal
Foto 3 - loket penjualan karcis bus
Wednesday, April 3, 2013
Photo Tour to Komodo Island
Ini adalah tulisanku yang pertama dari sekian banyak perjalanan travelling dan hunting photo. Mulai mencoba dikumpulkan dan dibuat dalam tulisan. Siapa tahu bisa jadi buku dan dijual ke publik.. :)
Tulisan kali ini adalah cerita tentang pengalaman aku mengikuti hunting ke Pulau Komodo bersama Kemilau Indonesia dari tanggal 22-25 September 2011 yang lalu.
Trip ini adalah salah satu cita-cita aku di thn 2011 untuk bisa hunting ke pulau Komodo. Begitu lihat di FN ada program ini langsung cek jadwal cuti kantor, harga tiket, dlsb. Setelah ok semua, langsung daftar di KI (Kemilau Indonesia) yang di arrange oleh mas Dodi Sandradi.
Hari pertama trip- 22 September, berangkat dari Bandara Soehat dengan pesawat Garuda jam 6.15 on time. Tiba di Ngurah Rai sekitar jam 09.00 wita. Pada saat ambil bagasi....koper sudah diambil, tapi tripodku koq ngga muncul-muncul ya...
Sampai koper-koper sudah habis dan terakhir, itu tripod ngga ada...langsung lapor ke bagian Lost and Found. Waah...gawat nih kalau sampai hilang tu tripod....ga bisa motret sunrise dan sunset...:((
Ternyata tripodku nyasar di flight berikutnya....dan untung ngga terlalu lama menunggu flight tsb. Finally, tripodku kembali...ahhh lega rasanya.
Sesuai jadwal, meeting point di Solaria jam 10.30 wita...hmmm, masih lama ya...sambil nunggu waktu, duduk sendirian di bangku yang ada di koridor arah ke Kedatagan :)
Tepat jam 10.30 wita, aku masuk ke resto Solaria....lihat kiri kanan, di sebelah kanan pintu masuk sepertinya orang-orangnya typical fotografer...dengan PDnya langsung tanya aja "maaf mas, apakah ini rombongan hunting dari Kemilau Indonesia?"....tuh kan, bener dugaanku...:) Langsung perkenalkan diri, salaman...dan duduk. Disitu sudah ada 5 peserta, termasuk Dodi sang EOnya.
Singkat cerita, setelah semua pesertanya lengkap - ada 12 orang - langsung menuju check in di bagian Kedatangan. Dari Nugrah rai kami naik pesawat Lion Air, on time 1.30 wita. Perjalanan menuju Labuan Bajo sekitar 1,5 jam.
Sampai di Labuan Bajo jam 15.00 wita....wuidih...panasnyaaaa :(

Bandara Komodo - Labuan Bajo Flores
Dari Bandara Komodo, rombongan langsung menuju hotel Bintang Flores.....hotelnya bersih, moderate, simple...untuk ukuran daerah Labuan Bajo, hotel ini termasuk paling bagus. Apalagi viewnya dari kamar langsung ke laut....keren abizzzz!!Ni dia foto hotelnya...keren kan?
Setelah pembagian kamar, 1 kamar berdua, rombongan kumpul lagi di lobby untuk mulai hunting. Dari hotel, kami diajak mas Dodi sebuah hotel (lupa namanya), yang dari teras hotel tsb bisa melihat dermaga Labuan Bajo, tetapi ngga jadi. Akhirnya langsung menuju dermaga Labuan Bajo untuk hunting HI. Udara panas dan matahari terik cukup menyengat... ditambah lagi truk yang wira-wiri di dermaga membuat debu beterbangan....whheeeww...pengen cepet-cepet pergi dari situ... Selesai hunting HI di dermaga, kita menuju Paradise Bar & Resto untuk motret sunset.
Pemandangannya indah sekali dari atas sini....walaupun matahari kadang tertutup oleh awan, tapi efek cahaya mataharinya asli deh...keren banget! Pendek kata, moment motret sunset dari tempat itu bisa di dapat dan cukup memuaskan.

View dari Bintang Flores hotel...
Setelah pembagian kamar, 1 kamar berdua, rombongan kumpul lagi di lobby untuk mulai hunting. Dari hotel, kami diajak mas Dodi sebuah hotel (lupa namanya), yang dari teras hotel tsb bisa melihat dermaga Labuan Bajo, tetapi ngga jadi. Akhirnya langsung menuju dermaga Labuan Bajo untuk hunting HI. Udara panas dan matahari terik cukup menyengat... ditambah lagi truk yang wira-wiri di dermaga membuat debu beterbangan....whheeeww...pengen cepet-cepet pergi dari situ... Selesai hunting HI di dermaga, kita menuju Paradise Bar & Resto untuk motret sunset.
Pemandangannya indah sekali dari atas sini....walaupun matahari kadang tertutup oleh awan, tapi efek cahaya mataharinya asli deh...keren banget! Pendek kata, moment motret sunset dari tempat itu bisa di dapat dan cukup memuaskan.
Makan malam kami adalah di Paradise itu....judulnya laper berat! Rasanya semua pada makan banyak. Makanannya enak dan bervariasi. Setelah kenyang, ngobrol dan saling cerita akhirnya kami kembali ke hotel. Mandi, beres-beres untuk trip besok selama 2 hari...akhirnya tidur lelap.
Jam 6.30 check out dari hotel menuju dermaga Labuan Bajo. Koper tinggal di hotel, bawa baju secukupnya dan yang penting bawa peralatan kamera. Sebelum tiba di dermaga, sempetin dulu mampir di suatu tempat - lupa namanya - untuk motret dermaga Labuan Bajo dari atas kota.... 

Loading di dermaga lumayan lama...kalau lihat jadwal harusnya jam 7.30 sudah mulai tour island. Ini jam 8.30 akhirnya baru bisa jalan kapalnya. Rombongan di bagi 2 kapal. Kapal yang aku tumpangi ada kabinnya 2 kamar, muat untuk 2 orang plus masing-masing ada kamar mandinya...:)) Tau sendiri deh standar kamar mandinya seperti apa... Perjalanan dimulai menuju pulau Bidadari, dilanjutkan ke Pulau Kelor dan terakhir merapat di pulau Kalong.
Sepanjang perjalanan banyak pulau-pulau yang tidak berpenghuni dan pulau tersebut tekstur tanahnya keras cenderung bebatuan sehingga tidak mungkin ada manusia yang mau tinggal disana, dan sudah pasti tidak ada pepohonan hijau.... tetapi laut dan pantainya semuanya indah tak terlukiskan. Airnya jernih dan bersih....banyak terumbu karang yang bisa dilihat langsung dengan mata telanjang. Pengennya sih berenang...baju renang sudah dibawa, tetapi panasnya itu yang ngga nahan.... takut kulitnya hitam :)

Inilah kapal yang membawa kami keliling pulau :)

Selama berada di atas kapal, untuk makan dan minum tidak perlu kuatir karena chef kapalnya jago masak. Makanannya enak-enak dan berlimpah. Sore hari disediakan teh/kopi dan snack pisang goreng. Mantep tenan deh...! Pokoknya kenyaaaang....hehehe
Perjalanan hari kedua, kapal berhenti di dekat pulau Kalong. Disebut pulau Kalong karena pulau itu ada dihuni oleh ribuang kalong. Sore hari menjelang magrib, kalong-kalong tersebut mulai keluar dari sarangnya. Saat itu kami tidak sempat waktunya mencapai pulau tersebut. Kalong-kalong sudan keburu pergi....kesempatan berikutnya adalah menunggu kalong-kalong pulang ke rumahnya di pagi hari....sekitar jam 5.30 sampai jam 6 pagi.
Aku tidur diluar, di dek...di kamar rasanya pengap dan gerah, walaupun ada AC....hebat ya :) tapi jam 10an gen setnya mati, otomatis AC juga mati... Tidur diluar ternyata juga ngga banyak anginnya, malah sama sekali ngga ada angin... aku ngga tau jam berapa itu...mau lihat jam juga gelap sekali. Sunrise, sunrise....tiba-tiba ada yang teriak. Semua bangun....padahal ngga bisa lihat sunrise, sementara nungguin kalong pulang juga ngga muncul-muncul. Rupanya sang kalong sudah pulang dari tadi....:)) kalopun ada, itu kalong adalah kloter terakhir... hehehe
Setelah sarapan pagi, nasi goreng, telor ceplok dan kerupuk, rombongan siap-siap menuju pulau Komodo. Untuk pagi ini, ngga bisa mandi karena air tawar sudah habis...oh lala..:( Ya sudah, aku sikat gigi dan cuci muka pakai air aqua saja 2 botol....
Perjalanan menuju desa Komodo hanya 20-30 menit dari pulau Kalong. Rombongan langsung mendarat di Pulau Komodo dan mulai hunting HI di perkampungan pulau Komodo selama +/- 1 jam.
Di pulau itu ada 2 dusun dengan 1 kepala desa. Mayoritas penduduk beragama Islam. Mata pencaharian penduduk adalah nelayan dan kerajinan suvenir atau cindera mata. Ada 1 sumur untuk menghidupi penduduk setempat dan bantuan air bersih dari....hmm, lupa namnya :) Sementara sekolah cuma ada 1, untuk program belajar 9 tahun. Perlu diketahui bahwa pembangunan sekolah negeri pulau Komodo ini ternyata didanai dari pemerintah Australia....astaga!!! Bagaimana pemerintah Indonesia kita ini???? Sebenarnya Indonesia ini punya siapa sih? Raja Ampat juga dibiayai oleh Pangeran Albert dari Monaco, yang notabene dimiliki oleh orang asing...ckckck...
Penduduk disana kelihatannya sudah biasa dengan foto-foto. Banyak diantara mereka yang tidak canggung lagi diminta untuk berpose, bahkan anak-anak kecil berteriak untuk minta difoto, setelah itu mereka minta foto-foto tsb dikirim ke mereka...:)
Puas dengan hunting HI, rombongan kembali ke kapal jam 9 dan siap menuju Pulau Komodo besar. Tiba disana, suasana sudah ramai sekali, tidak seperti berada di pulau terpencil karena saat itu turis dari Australia juga berkunjung ke Komodo. Mereka datang dengan kapal pesiar yang besar, yang menurut informasi jumlah mereka ada sebanyak 1,050 orang....woowww! Yang kami kuatirkan adalah, rombongan kami tidak kebagian Ranger yang akan mengawal kami selama trekking. Tapi untunglah EO kami sudah berpengalaman, sehingga kami tetap dapat Ranger sebanyak 3 orang. Sementara turis-turis Australia dapat 1 Ranger untuk 24 orang :)
Briefing sebentar dari Ranger, apa yang boleh dan tidak selama trekking untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Rumah sakit jauh boo....so, jangan bertindak macem-macem deh, mending nurut aja apa kata Ranger :)
Perjalanan trekking lumayan jauh, ditambah udara panas yang menyengat....rute kami berbeda arah dengan para turis, sehingga perjalanan bisa dinikmati. Akhirnya tibalah kami di tempat si para dragon ini berada....ada 3 ekor. Langsung ambil posisi yang strategis untuk motret si komodo. Tapi karena juga ada turis asing, kesannya jadi seperti di kebun binatang...:( kebanyakan hasilnya juga pada "bocor"....ngga seru deh... mana si komodonya diem aja...paling-paling lehernya saja yang bergerak ke kiri atau ke kanan....
30 menit motret si komodo rasanya sudah cukup, ngga bisa banyak angle untuk capture si komodo. Untuk kembali ke tempat awal start trekking, ranger mengarahkan kami melalui rute yang lain. Kali ini rutenya mendaki, ondeee...pegal kaki niih...sampai akhirnya tiba di Sulphurea Hill Top, istirahat sebentar, kemudian lanjut lagi. Nah, baru beberapa meter jalan, kami bertemu dengan komodo muda, panjang sekitar 1,5 meter. Woow, kami langsung antusias mengejarnya untuk bisa dapetin foto yang bagus. Akhirnya dapat juga motret si komodo dengan lidahnyanya yang terjulur keluar... Ini dia fotonya :)
Perjalanan trekking ini cukup melelahkan, rasanya pengen cepat-cepat sampai ditempat yang adem dan sejuk sambil menikmati minuman yang dingin...yang akhirnya sampai juga rombongan di Cafetaria milik salah satu ranger kami. huuufff....segernya rasanya minum yang dingin-dingin, sampai kembung nih perut. Lebih kurang 15 menit di Cafetaria, kami dipersilahkan jalan-jalan sebentar ditempat penjualan suvenir. Ngga minat beli apa-apa disana, karena bawaannya sudah pengen cepet pulang dan sampai di hotel, supaya bisa mandi dan istirahat...
Jma 12 kami kembali ke kapal dan makan siang. Setelah itu dilanjutkan perjalanan pulang ke Labuan Bajo. Sebelumnya kami mampir di pulau Kenawa untuk berenang dan sunset. Pulau ini juga dikelola oleh orang asing rupanya...kalau tidak salah orang Perancis. Dan pengunjung yang menginap disanapun adalah turis asing semua...
Tiba di Labuan Bajo sekitar jam 9 malam dan check in di Bintang Flore hotel sekitar jam 10. Bisa menikmati mandi air segar....rasanya duuh, luar biasa! Selesai mandi, beres-beres koper lagi supaya besok pagi tidak terburu-buru untuk check out.....
Hari ke-4, tgl. 25 September 2011, rombongan check out dari hotel jam 8 wita. Foto keluarga dulu sebentar di depan lobi hotel. Dari Labuan Bajo ke Denpasar naik pesawat Merpati, take off jam 9.25 wita, on time looh....:)
Perjalanan yang menyenangkan, seru dan fun! Bisa menikmati indahnya kekayaan wisata alam Indonesia....adalah pengalamaan yang luar biasa, di tambah dengan teman-teman baru yang juga luar biasa. Terima kasih Kemilauu Indonesia... sampai jumpa di trip berikutnya.

Salam hangat,
Tania Langitan
Note: Mohon maaf kalau ada salah penulisan nama dan tempat
Subscribe to:
Posts (Atom)





_resize.jpg)


























